Fenomena Cabe-Cabean

cabe-cabeanDalam beberapa hari ini di berbagai media massa baik cetak maupun online, begitu pula di media sosial besar semacam facebook dan twitter sedang ribut-ribut soal fenomena cabe-cabean yang santer di ibukota, cabe-cabean sendiri merupakan sebuah istilah yang menjurus pada anak-anak kecil  pada artian seorang gadis belia yang umurnya masih berada di tingkat SMP ataupun SMA. 

Anak-anak dan gadis-gadis dengan perawakan seksi itu identik dengan keluyuran malam hari, dunia balap liar dan tempat hiburan malam. Sayangnya istilah ini tidak bersifat positif melainkan negatif yang mana terhubung dengan kehidupan seks bebas, mabuk-mabukan, cewek bayaran, dan tragisnya sudah menjadi bahan taruhan balapan liar.

Sebenarnya jauh sebelum muncul fenomena istilah cabe-cabean di ibukota dan berbagai media, sudah muncul istilah yang maknanya sama, di Jogja dan Solo atau mungkin kota-kota besar di pulau Jawa lainnya mengenal dengan sebutan kimcil yang jika diartikan memang kurang senonoh krn merupakan kependekan dari alat vital wanita yang kecil, kecil disini merujuk pada usia yang masih muda atau bisa juga kondisi  (maaf) alat vital itu yang masih kecil.

Mungkin saja diberbagai daerah lain di Indonesia mengenalnya dengan istilah-istilah yang lain,  fenomena anak dan gadis yang seperti ini telah menjadi bencana nasional di Indonesia, kondisi calon generasi masa depan yang sejak dini telah merusak dirinya perlu menjadi perhatian kita bersama, lalu kenapa bisa fenomena ini muncul ?

Dari berbagai literatur dan kondisi yang saya baca dan lihat, kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua dan anak menjadi alasan nomor satu munculnya fenomena ini, perhatian dan kasih sayang orang tua sangat diperlukan anak, orang tua memiliki peran yang besar terhadap keberhasilan dan lurusnya jalan sang anak, seperti kita ketahui orang tua merupakan madrasah atau sekolah pertama dan paling penting bagi anak.

Kedua orang tua juga lah yang menanamkan pondasi dalam pembangunan mental, rohani dan jasmani sehingga ketika madrasah atau sekolah pertama tidak mampu memberikan kontribusi yang positif dan rasa nyaman maka sang anak memilih keluar dari madrasah atau lingkungan orang tua dan mencari kenyamanan lain yang tidak pernah didapatkan dari orangtua.

Kesalahannya kemudian ketika anak keluar dari lingkungan orang tua, terjadi salah langkah, anak-anak kemudian masuk pada lingkungan negatif, berkumpul dengan teman-teman yang bernasib sama dan menciptakan situasi yang dianggap menyenangkan namun sebenarnya berefek negatif, maka muncullah sekumpulan cabe-cabean, kimcil dan berbagai istilah lain yang menjurus pada fenomena negatif yang dilakukan anak-anak.

Dari fenomena ini kita mengambil pelajaran, bahwa sangat penting mengembalikan anak ke rumahnya dengan perhatian dan kasih sayang orang tua, berhentilah mengumbar ego antar pasangan yang berujung pada keretakan keluarga, ciptakanlah rasa persahabatan dengan anak dan keluarga sehingga anak lebih nyaman berada di rumah bersama keluarga daripada keluyuran dan melakukan tindakan-tindakan yang negatif dan dapat merusak masa depannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>